Gunung Sitoli, –
Aliansi Masyarakat Peduli Rakyat (AMPERA) menggelar aksi damai di depan RSUD Thomsen Gunung Sitoli, pada Kamis (15/01/2026).
RSUD dr. M. Thomsen Nias tetap berikan pelayanan optimal berpedoman pada Peraturan yang berlaku, Jumat (09/01/2026) sekira pukul 21:21 Wib
RSUD dr. M. Thomsen Nias tetap berikan pelayanan optimal berpedoman pada Peraturan yang berlaku. Massa datang membawa satu pesan utama: Pelayanan publik di rumah sakit harus berjalan sesuai standar. Aksi berlangsung tertib dengan orasi dari sejumlah tokoh dan aktivis LSM, Pers setempat.
Salah satu orator, Pias, menegaskan tuntutan agar manajemen rumah sakit membenahi kualitas layanan. Ia menilai pelayanan kesehatan tidak sekadar urusan teknis medis, tetapi juga menyangkut kehadiran sikap dan tanggung jawab kehadiran, pada pelayanan baik kepada publik.
“Pelayanan publik di rumah sakit harus sesuai standar,” kata Pias dalam orasinya.
Di sela aksi, awak media mewawancarai Yanto Waruwu salah satu peserta aksi, Wakil Ketua GMICAK Kepulauan Nias.
Yanto mengaku kecewa karena Direktur RSUD Thomsen Gunungsitoli tidak hadir menemui massa. Menurutnya, ketidakhadiran itu mencerminkan sikap yang tidak kooperatif dan terkesan mengabaikan aspirasi Rakyat/masyarakat.
Puji Tuhan RSUD dr. M. Thomsen Nias tetap berikan pelayanan optimal berpedoman pada Peraturan yang berlaku
Jumat, (09/01/2026) sekira pukul 20:02 Wib. Puji Tuhan RSUD dr. M. Thomsen Nias tetap berikan pelayanan optimal berpedoman pada Peraturan yang berlaku
“Saya secara pribadi merasa kecewa karena Direktur RSUD Gunung Sitoli sengaja tidak hadir tanpa memberikan alasan yang pasti,” ucap Yanto.
Ia menilai kehadiran pimpinan rumah sakit penting sebagai bentuk penghormatan terhadap warga yang menyampaikan aspirasi secara damai.
Yanto menambahkan, kekecewaan peserta aksi juga berangkat dari pengalaman pelayanan sebelumnya.
“Di sini kita menilai pelayanan selama ini yang dilakukan oleh Direktur RSUD Thomsen Gunungsitoli buruk, terbukti tidak menghargai kami peserta aksi,” tambahnya.
Korupsi dana desa Tuhegeo II jadi sorotan, Kejaksaan diminta tak gentar hadapi intervensi, Minggu (04/01/2026) sekira pukul 20:47 Wib. Korupsi dana desa Tuhegeo II jadi sorotan, Kejaksaan diminta tak gentar hadapi intervensi
AMPERA berharap aksi ini menjadi catatan serius bagi para pemangku kebijakan. Yanto secara terbuka meminta kepala daerah dan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara memberi teguran tegas kepada pimpinan rumah sakit.
“Semoga ini menjadi catatan penting agar etika pelayanan publik benar-benar dikedepankan,” harapnya.
Aksi damai tersebut ditutup dengan seruan agar RSUD Thomsen Gunungsitoli segera berbenah. Massa berharap rumah sakit milik pemerintah itu kembali menjadi tempat yang memberi rasa aman, dihargai, dan manusiawi bagi setiap pasien.










