Gajah Liar Tewaskan Warga Di Talang Kadir, Rustam Desak BKSDA Lebih Proaktif

banner 120x600
banner 468x60

TEBO – // Jurnalis.online // Kembali lagi, konflik antara manusia dan satwa liar di wilayah Tebo, Jambi, memakan korban jiwa. Kejadian tragis ini berlangsung pada Senin, 11 November 2024, sekira pukul 05:30 Wib di Talang Kadir SP 1, Kecamatan Serai Serumpun Ragunas. Seorang pria berinisial N dilaporkan meninggal dunia setelah diserang oleh seekor gajah liar yang dikenal warga dengan julukan “Datuk”.

Kronologi Kejadian: Mencoba Mengusir Gajah, Namun Berujung Maut

Berdasarkan kesaksian istri korban yang berinisial A, pagi itu korban keluar dari pondok untuk memeriksa lahan seluas 6 hektar yang dijaga bersama keluarga. Ia membawa baju yang disandang di bahunya untuk mengecek keamanan sekitar. Tidak berselang lama, gajah yang biasa disebut Datuk memasuki lahan mereka.

Korban segera berteriak memperingatkan istrinya, namun A yang tengah mencuci pakaian hanya mendengar seruan suaminya tanpa menyadari bahaya yang mendekat. Salah satu anak mereka yang menyaksikan kemunculan gajah tersebut berteriak, “Ada gajah Bu! Ada gajah Bu!”, seraya memberitahu ibunya.

Seketika, A berlari keluar pondok untuk meminta suaminya menyalakan api guna mengusir gajah. N pun segera berlari ke dalam pondok untuk mengambil alat pemantik. Namun, saat berusaha menyalakan api, gajah tersebut mendadak menyerang. Korban tidak hanya terinjak oleh gajah, namun juga ditanduk dengan gadingnya, yang menyebabkan luka serius di bagian perut dan punggungnya.

Korban tak tertolong, warga desak bantuan.

Setelah serangan tersebut, tetangga yang berada di sekitar lokasi bergegas membantu membawa korban ke Puskesmas terdekat. Sayangnya, nyawa N tidak dapat diselamatkan. Ia menghembuskan nafas terakhirnya dalam perjalanan menuju Puskesmas. Dalam keadaan terpukul, istri korban menyampaikan kisah tragis tersebut kepada awak media pada Selasa, 12 November 2024 di Desa Teluk Pandan Rambahan.

Duka dan Kecaman dari Ketua Grib Jaya
Rustam, Ketua Grib Jaya Kabupaten Tebo, mengungkapkan rasa belasungkawanya atas musibah yang dialami keluarga korban. “Kami sangat berdukacita atas meninggalnya saudara kita. Semoga almarhum ditempatkan di sisi-Nya dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan,” ucapnya dengan nada haru.

Namun, Rustam juga meluapkan kritik pedas terhadap Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA). Ia menyayangkan sikap pasif BKSDA dalam melindungi masyarakat dari konflik dengan satwa liar. Menurutnya, BKSDA seharusnya lebih proaktif dalam menjalankan tugas pokok dan fungsinya.

“Kita butuh tindakan nyata dari BKSDA, bukan hanya sebatas wacana. Jangan hanya melindungi hewan langka, tetapi abaikan keselamatan manusia. Seharusnya, ada upaya pencegahan dan patroli yang lebih intensif,” tegas Rustam.

Konflik Satwa Liar yang Terus Berulang
Kejadian seperti ini bukanlah pertama kalinya terjadi di wilayah Tebo. Banyak warga yang mengeluhkan seringnya gajah liar memasuki lahan pertanian dan pemukiman, terutama saat musim panen tiba. Para petani menjadi khawatir karena lahan yang menjadi sumber penghidupan mereka kerap dirusak oleh kawanan gajah.

Warga setempat telah berulang kali meminta perhatian dari pihak terkait untuk menangani konflik satwa ini, namun respon yang diterima dinilai kurang memadai. Mereka berharap adanya solusi konkret agar kejadian serupa tidak terulang di masa depan.

Peran Penting BKSDA dalam menangani Konflik, sebagai lembaga yang bertanggung jawab atas konservasi satwa liar, BKSDA diharapkan dapat meningkatkan upaya mitigasi konflik antara manusia dan satwa. Solusi yang disarankan termasuk pemasangan pagar listrik atau penyediaan koridor satwa agar hewan liar tidak memasuki wilayah permukiman warga.

Pengamat lingkungan juga menekankan pentingnya edukasi kepada masyarakat tentang cara aman menghadapi satwa liar. Hal ini diperlukan agar masyarakat dapat merespons situasi darurat dengan cara yang lebih efektif dan aman.

Upaya Kolaboratif untuk Pencegahan Konflik Satwa, Rustam dan keluarga besar Grib Jaya menyerukan agar ada koordinasi yang lebih baik antara BKSDA, Pemerintah daerah, dan masyarakat setempat. Mereka berharap pemerintah segera turun tangan untuk memberikan solusi jangka panjang. Membangun jalur koridor satwa, pemasangan alat pengusir satwa liar, serta patroli rutin di wilayah-wilayah rawan dianggap sebagai langkah yang harus segera diambil.

“Kami meminta adanya penanganan yang lebih serius dan berkelanjutan. Jangan sampai jatuh korban lagi hanya karena kelalaian dalam melindungi masyarakat dari ancaman satwa liar,” ujar Rustam menutup wawancara.

Peristiwa tragis ini menjadi pengingat betapa pentingnya sinergi antara upaya konservasi dan keselamatan warga. Semua pihak diharapkan bekerja sama untuk menciptakan solusi yang tidak hanya melindungi satwa langka, tetapi juga memastikan keamanan penduduk yang tinggal di sekitar kawasan konservasi.

Liputan : Zulfan

banner 325x300