Aceh Tenggara, –
Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Kutacane, Kecamatan Babussalam, Kabupaten Aceh Tenggara, kini menjadi sorotan tajam dimata publik. Sorotan itu datang dari berbagai banyak kalangan, terkait tentang pengelolaan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS), dan dana kantin yang diduga syarat masalah, Rabu (29/4/2026).
Aparat Penegak Hukum (APH) didesak segera turun tangan melakukan audit menyeluruh atas dugaan penggunaan dana BOS yang diduga diperuntukkan tidak sesuai dengan petunjuk teknis (juknis).
Sorotan ini mencuat setelah kondisi fasilitas sekolah dinilai memprihatinkan. Sejumlah bangunan tampak memprihatinkan, mulai dari ruang belajar, banyak asbes yang terlihat bolong, WC terlihat ada yang rusak, hingga sarana penunjang lain yang tak terawat.
Padahal, dana BOS yang digelontorkan pemerintah yang telah diterima pihak sekolah tahap pertama yang terhitung sejak Januari hingga Juni 2026 sebesar Rp 371 jutaan lebih, seharusnya dengan dana sebesar itu sudah dapat digunakan untuk menunjang operasional serta perawatan fasilitas pendidikan.
Informasi yang dihimpun menyebutkan, dana BOS tahap pertama yang dikucurkan pemerintah mencapai sekitar Rp371 juta. Namun, penggunaan anggaran tersebut kini dipertanyakan, lantaran tidak sebanding dengan kondisi nyata di lapangan.
Mukhlis selaku kepala sekolah SMP Negeri 1 Kutacane, yang dilantik oleh Bupati Aceh Tenggara, “M Salim Fakhri”, pada 13 Februari 2026 yang lalu, saat dikonfirmasi awak media Jurnalis.Online, pada Senin, (26/4/2026), diruangan kerjanya, “Mukhlis” terkesan enggan bertanggung jawab penuh. Ia menyebut bahwa pengelolaan dana BOS tahap pertama bukan berada di bawah kewenangannya. Saat ini saya hanya meneruskan saja, jadi sebahagian Dana bos yang saya teruskan, diperuntukkan untuk membayar pajak, membayarkan transpot wakil kepala sekolah, karna sekolah ini memiliki empat Wakil Kepsek dan sebagainya,
Sepenuhnya, “Dana BOS tahap pertama itu dikelola oleh Amnah Selian, selaku Plt kepala sekolah sebelum saya, dan untuk dana kantin juga silakan konfirmasi ke beliau lebih jelasnya, saya masih baru menjabat Kepala Sekolah disini,” ujarnya singkat.
Pernyataan tersebut justru menimbulkan tanda tanya baru. Publik menilai adanya saling lempar tanggung jawab dalam pengelolaan anggaran yang seharusnya dikelola secara transparan dan akuntabel.
Sejumlah pihak menilai sikap Kepala Sekolah yang terkesan tutup mata terhadap kondisi fasilitas sekolah memperkuat dugaan adanya ketidakwajaran dalam penggunaan dana BOS. Jika anggaran ratusan juta rupiah benar-benar digunakan sesuai juknis, seharusnya kondisi sekolah tidak memprihatinkan seperti saat ini.
“Ini bukan angka kecil. Rp371 juta itu harus jelas peruntukannya. Kalau fasilitas masih rusak, patut diduga ada penyimpangan,” ujar salah satu sumber.
Masyarakat mendesak Aparat Penegak Hukum (APH), dan kepada Inspektorat kabupaten setempat untuk tidak tinggal diam. Audit menyeluruh dan penelusuran aliran dana dinilai penting untuk mengungkap fakta sebenarnya, termasuk menelusuri siapa yang paling bertanggung jawab atas pengelolaan anggaran tersebut.
Selain itu, transparansi dari pihak sekolah juga menjadi tuntutan utama. Publik berharap seluruh penggunaan dana BOS dan dana kantin disekolah dibuka secara terang benderang agar tidak menimbulkan kecurigaan yang berkepanjangan.
Tempat terpisah, saat media ini lakukan konfirmasi pada Amnah Selian, melalui sambungan telon via aplikasi WhatsApp, pada Selasa, (28/4/2026), terkait penggunaan dana Bos dan dana Kantin sekolah, Amnah Selian, membenarkan jika dirinya pernah menjabat sebagai PLT Kepsek disekolah tersebut.
“Ya benar, dulu saya memang jadi PLT Kepsek di SMP Negeri 1 Kutacane, kalau masalah dana Bos, meski disebut sebesar Rp 371 jutaan lebih, semasa saya, saya hanya pergunakan Rp 278 jutaanlah, dan itu juga tidak terpakai semua, ada juga sebagian sudah saya kembalikan pada kepala sekolah saat ini, dan dana sebesar Rp 278 jutaan itu saya sudah lupa diperuntukkan untuk apa saja, karna semua sudah saya SPJ kan, terkait kepala sekolah defenit saat ini, pak Mukhlis, bilang tidak mengetahui peruntukannya, ini sangat tidak mungkinlah, kalau masalah dana kantin, itu semasa saya udah diperuntukkan untuk pembelian alat-alat kebersihan kelas dan WC juga sebahagian,” jelas Amnah Selian sambil mengakhiri.










